Sabtu, 26 Januari 2013

Abul Wafa Muhammad Al-Buzjani

Dalam ilmu matematika, ada sebuah ilmu yang mempelajari sebuah sudut dan bagaimana cara mengukurnya. Ditemui pula istilah sinus, kosinus, dan tangen. Trigonometri merupakan istilah dari bahasa Yunani, yaitu "trigonon" (tiga sudut) dan "metro" (mengukur). Selama ini trigonometri dianggap sebagai cabang ilmu yang sulit.

Banyak yang mengira bahwa ilmu trigonometri tak bisa diterapkan dalam kehidupan nyata. Dugaan itu tentu saja tidak benar. Trigonometri memiliki peran yang tidak bisa diabaikan. Saat arsitek membangun bangunan-bangunan tinggi yang kokh dan megah, mereka memerlukan ilmu trigonometri. Mereka tidak akan bisa membangunnya dengan baik jika tidak menguasai ilmu trigonometri dengan baik pula.



Adalah Abul Wafa Muhammad Al-Buzjani, orang yang dianggap pertama kali memperkenalkan sinus dan kosinus. Ia dianggap memiliki kelebihan yang sangat maju dan disiplin ilmu trigonometri. Al-Buzjani lahir di Buzjan, Nishapur, Iran pada 1 Ramadan 328 H atau 10 juni 940 M. Ia banyak belajar matematika pada dua orang pamannya, Abu Amr al-Mughazili dan Abu Abdullah Muhammad ibn Anbasa.

Selain memperkenalkan ilmu trigonometri, Al-Buzjani juga mengembangkan rumus geometri yang merupakan induk dari ilmu trigonometri. Salah satunya adalah pemecahan soal geometri dengan kompas, konstruksi segi empat ekuivalen, dan segi banyak atau bangun datar parabola yang terdiri atas titik-titik. Rumusnya adalah persamaan x4 = a dan x4 + ax3 = b.

Dalam menghitung segitiga lingkaran, Al-Buzjani menyamakannya dengan segitiga siku-siku. Dengan teori Manlaus yang lebih dulu populer, yang memakai kaidah empat persamaan dan teori bayangan, dia berhamembuat kaidah baru. Dalam segitiga lingkaran yang memiliki sudut lancip, mungkin dapat ditemukan teori sinus. Menggunakan cara hitung sinus 30, hasil hitungan adalah delapan angka puluhan yang nilainya sama dengan nilai hakiki (sebenarnya sinus). Dalam geometri, operasi hitungan sangat penting meskipun masih sering digunakan cara hitung India.

Pada masa modern, para ilmuwan berbeda pendapat saat harus menggunakan teori Al-Buzjani. Berbagai cara menghitung, seperti memasukkan bayangan ke bayangan inti, segitiga sama sisi atau memasukkan potongan kepada potongan ini, terjadi perbedaan pendapat tentang siapa sebenarnya pencetus teori ini. Sebagian ilmuwan menganggap bahwa yang menemukan teori tersebut adalah Ahmad bin Abdullah atau Bahbasy al-Hisab.

Secara umum, karya-karya Al-Buzjani dapat digolongkan menjadi tiga kelompok, sesuai bidang ilmu yang dikuasainya. Pertama adalah karya-karya yang merupakan penjelasan dari ilmuwan lain. Dalam hal ini, Al-Buzjani hanya sebagai seorang penjelas dari teori yang ditemukan oleh ilmuwan lain. Misalnya, ia menjelaskan teori aljabar dari tiga ilmuwan yang memiliki latar belakang, bahkan negara yang berbeda. Ada tiga buku yang ditulisnya untuk menjelaskan teori aljabar versi Deofantos, Abarchos, dan Al-Khawarizmi. Sayang, semua buku ini hilang, sehingga kita tidak bisa mendaptkan pemikiran utuh yang disampaikan oleh Al-Buzjani.

Yang kedua adalah semacam buku panduan atau acuan bagi orang yang bekerja berdasarkan teori geometri, seperti arsitek. Dalam buku ini dijelaskan secara lengkap tentang cara baru menghitung segi empat dan persamaan tingkat empat, segitiga, lingkaran, dan bermacam bangun lainnya. Buku ini ditulis menjelang akhir hidupnya dengan dibantu oleh para ilmuwan lain yang mampu menggambar tanpa bukti matematis. Karena buku ini merupakan proyek negara (perintah penguasa), buku ini masih bisa dipelajari hingga sekarang. Diantaranya adalah buku berjudul Al-Handsa (Geometri Terapan), Al-Kitab Al-Kamil (Buku Lengkap), dan Ilm al-Hisab (Buku Praktis Aritmatika). Buku ini bahkan tidak hanya digunakan para ahli geometri, tapi juga menjadi rujukan untuk menghitung pajak dan perdagangan.

Yang ketiga adalah buku-buku yang tergolong dalam bidang astronomi antara lain al-Majesty dan al-Zayj. Buku ini menjadi semacam ensiklopedia astronomi yang pernah ditulis Ptolemeus, berisi tentang kalender astronomi yang menjadi acuan para ilmuwan untuk meneropong bintang serta benda langit lainnya, gerakan bintang, dan perubahan yang terjadi secara tiba-tiba.

Al-Buzjani pindah ke Baghdad pada tahun 959 M untuk mengembangkan ilmunya. Saat itu Baghdad memang terkenal sebagai pusat ilmu pengetahuan. Berbagai literatur ilmu pengetahuan mudah didapatkan disana. Pihak kerajaan memilihnya untuk memimpin peneropongan bintang di observatorium yang telah dibangun di tama kota Baghdad. Hasil peneropongannya sangat akurat, dan analisisnya diakui oleh para ilmuwan sesudahnya, terutama analisis mengenai astronomi, penentuan waktu dan terbitnya matahari, perkiraan panjangnya musim, dan melencengnya bumi dari garis ekliptikanya.

Selain dalam buku, karya-karyanya juga dipublikasikan dalam berbagai juranal ilmiah, antara lain Diphantor, Euclid, dan Al-Khawarizmi. Namun karya-karyanya itu banyak yang hilang. Metode tabel sinus yang dibuatnya memudahkan pemecahan rumus trigonometri, yaitu hubungan sinus (a+b) dengan rumus 2 sin2 (a/2)= 1 – cos a, dan 2 sin (a/2) cos (a/2). Al-Buzjani meninggal dunia di Baghdad, Irak pada tahun 997 M (Sumber lain menyebutkan 998 M)
Read More

Alessandro Volta

Alessandro Volta - Penemu Baterai. Apa Anda mengetahui apa itu baterai? Atau ada yang tidak tahu apa itu baterai? Saya yakin semua orang pasti tahu apa itu baterai. Orang yang tidak normal pun pasti tahu baterai itu apa. Tapi apakah anda tahu siapa penemu baterai? Pada kesempatan kali ini, saya akan menuliskan siapa sebenarnya penemu baterai.

Baterai biasa atau sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya untuk menghidupkan senter, jam diniding, mobil-mobilan, remote control, jam tangan, dan masih banyak lagi yang tidak mungkin saya tuliskan semua karena saya disini tidak membahas kegunaan baterai melainkan penemu dari baterai itu.

Dulu sebelum ada listrik, banyak orang yang menggunakan baterai untuk menghidupkan atau untuk keperluan memutar radio atau cassete tape. Ya, baterai memang alat yang berfungsi sebagai pembangkit listrik. Siapakah yang menemukan baterai? Dialah Alessandro Volta, seorang ahli fisika terkemuka dari Italia.



Alessandro Volta dilahirkan dari keluarga bangsawan pada 18 Februari 1745 di Como, Lombardia, Italia. Dia memiliki sembilan saudara sekandung yang semuanya masuk biara, kecuali Volta.

Ketika kecil, Volta dianggap sebagai anak yang terbelakang dan dianggap paling bodoh, karena dia baru dapat berbicara pada umur empat tahun. Tak ada yang menyangka, anak yang bodoh dan terbelakang itu, ketika besar memiliki kemampuan yang dapat menandingi teman sebayanya. Bahkan pada usia 14 tahun, Volta menegaskan keinginannya untuk menjadi seorang ahli fisika.

Berkat ketekunan dan semangatnya yang tinggi, akhirnya Volta berhasil menjadi seorang ilmuwan yang disegani. Pada tahun 1786, seorang ahli fisiologi yang sekaligus teman Volta yang bernama Luigi Galvani, melakukan eksperimen terhadap kaki katak yang diikat dengan kait tembaga. Pada saat kaki katak menyentuh besi, secara otomatis kaki itu berdenyut. Berdasarkan kejadian tersebut, maka Galvani berpendapat bahwa ternyata daging katak mengandung listrik.

Kesimpulan tersebut tidak langsung diterima mentah-mentah oleh Volta. Bahkan, ia sendiri kemudian larut dalam serangkaian eksperimen untuk membuktikan kebenarannya. Hasilnya, pada tahun 1794 atau delapan tahun setelah kejadian itu, Volta memperoleh kesimpulan dari eksperimennya, yaitu ternyata listrik yang dimaksud Galvani bukan berasal dari daging katak, malainkan dari logam. Dari sinilah terjadi perdebatan sengit antara pengikut Volta dan pengikut Galvani.

Sayangnya, perdebatan itu tidak menemui titik temu selama rentang waktu enam tahun lamanya. Hingga pada tahun 1800, Volta berhasil menemukan baterai. Penemuannya ini sekaligus menumbangkan teori Galvani, dan menghentikan perdebatan yang terjadi antara kedua kubu tersebut.

Alessandro Vlota meninggal pada usia 82 tahun atau tepatnya pada 5 Maret 1827 di tanah kelahirannya, Como. Semasa hidupnya, Volta pernah menjadi guru besar dan seorang pengarang. Selain baterai, Volta juga memiliki sejumlah penemuan yang terkenal, diantaranya adalah kondensator, eudimeter, pistol listrik, dan lampu udara.
Read More

Al-Battani

Al-Battani - Penemu Jumlah Hari dalam Setahun. Jumlah hari dalam setahun adalah 365 hari. Bagaimana jumlah ini bisa diperoleh, dan siapakah orang yang pertama kali menemukannya? Apakah penentuan jumlah itu asal-asalan saja atau dengan memperhitungkan banyak hal? Kenapa harus 365 hari, tidak dibuat 500 atau 1000 hari saja supaya mudah untuk diingat? Tentu anda penasaran, bukan???

Al-Battani adalah nama seorang ilmuwan yang disebut-sebut berjasa menemukan hitungan jumlah hari dalam setahun. Nama lengkap Al-Battani adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Jabir ibn Sinan Al-Battani. Orang Eropa menjuluki Al-Battani dengan sebutan Albategnius. Ia lahir pada tahun 858 M di dekat kota Battan, Harran. Ia dikenal sebagai ahli astroomi dan matematika terbesar di dunia pada abad pertengahan.



Al-Battani belajar astronomi dan matematika dari ayahnya, Jabir Ibnu Sin'an. Kemudian melanjutkan studinya untuk memperdalam kedua disiplin ilmu tersebut di kota Rakka, di tepi sungai Efrat. Pada akhir abad sembilan, Al-Battani pindah ke Samarra untuk bekerja hingga meninggal dunia tahun 929 M.

Al-Battani berhasil menghitung jumlah hari dalam setahun (dalam tahun masehi) berdasarkan penghitungan waktu yang digunakan bumi untuk mengelilingi matahari, yakni 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik. Jadi, penentuan jumlah hari dalam setahun bukanlah asal-asalan saja, melainkan berdasarkan perhitungan yang cermat dan matang. Kita tidak bisa sembarangan menentukannya, karena sistem kalenderium itu juga berguna untuk meramal atau menentukan musim.

Perubahan musim ditentukan oleh posisi matahari terhadap bumi. Pada bulan mei misalnya, matahari berada di utara khatulistiwa. Angin bergerak dari selatan (yang dingin) menuju utara (yang lebih panas) melewati gurun Australia yang kering. Akibatnya, setiap bulan Mei, di Indonesia terjadi musim kemarau. Kalau perhitungannya tidak tepat, peramalan musim juga keliru. Misalnya, pada bulan mei, tidak selalu juga terjadi kemarau.

Hasil perhitungan Al-Battani di atas mendekati perhitungan menggunakan peralatan canggih yang digunakan para ilmuwan di abad ini. Sebagai ilmuwan astronomi, Al-Battani banyak menulis buku tentang astronomi dan trigonometri, termasuk sistem perhitungan almanak dan kalenderium seperti yang diulas di atas. Almanak yang diciptakan oleh Al-Battani diakui merupakan sistem perhitungan astronomi yang paling akurat, yang sampai kepada kita sejak abad pertengahan. Pada abad pertengahan, orang-orang Eropa menggunakan sistem ini sampai abad pencerahan.

Dalam pembukuan Almanak, Al-Battani berkata "Ilmu astronomi merupakan bagian dari ilmu dasar yang sangat bermanfaat. Melalui ilmu astronomi, manusia mengetahui hal-hal penting. Dilihat dari manfaat dan kegunaannya dalam kehidupan manusia, astronomi menjadi ilmu yang sangat penting untuk diketahui".

Pada tahun 1899, di kota Roma dicetak sebuah buku berjudul Az-Zaujush Shabi li Batani (Almanak versi Al-Battani) yang disunting oleh Carlo Nallino dari manuskrip yang disimpan di perpustakaan Oskorial, Spanyol. Karya lain Al-Battani yang terkenal adalah Syarh al-Makalat al-Arba'I li Batlamius. Karya ini berisi uraian dan komentar tajam terhadap pemikiran Ptolemy yang tertuang dalam "Tetrabilon" nya.

Al-Battani mengubah teori Ptolemy, serta meralat perhitungan orbit bulan dan beberapa planet. Dia membuktikan bahwa orbit benda langit berbentuk elips, dan membuktikan perubahan posisi matahari menjadi penyebab perubahan musim. Ilmuwan Eropa, Duntho (1749 M), memanfaatkan penemuan Al-Battani tentang orbit elips dari benda langit untuk memetakan pergerakan bulan.

Sementara penemuan Al-Battani dibidang trigonometri, termasuk konsep sinus, kosinus, tangen, dan kotangen, masih digunakan hingga saat ini. Al-Battani meninggal dunia pada tahun 929 M.

Demikianlah artikel yang saya sempat posting untuk hari ini. Semoga bermanfaat.
Silahkan baca juga artikel tentang Peletak Dasar Rumus Trigonometri.
Terima Kasih....
Read More

Abu Bakar Al-Razi

Abu Bakar Al-Razi bernama lengkap Abu Bakar Muhammad Ibn Zakaria Al-Razi. Di dunia barat, Al-Razi dikenal dengan nama Rhazes. Al-Razi lahir di Rayy, dekat Taheran, Iran, pada tahun 864 M. Masa kecilnya dihabiskan dalam asuhan keluarga yang kental dengan nilai-nilai agama. Semasa muda, Al-Razi menyukai dunia musik, terutama kecapi. Ketika menginjak dewasa, ia mulai menggeluti dunia filsafat, kimia, matematika, dan kesusatraan.

Sebelumnya, Al-Razi dikenal sebagai ahli kimia. Di bidang ini, Al-Razi merupakan ilmuan yang mampu mengklasifikasikan berbagai zat kimia kedalam tiga bagian yaitu mineral, tumbuh-tumbuhan, dan hewan. Klasifikasi ini didasarkan pada asumsi bahwa hewan serta tumbuhan juga mengandung dan tersusun dari unsur-unsur kimia. Al-Razi juga dikenal sebagai ilmuwan yang terampil melakukan proses-proses kimia seperti distuasi, kristalisasi, sublimasi, kalsinasi, sintesis-sintesis, serta berbagai macam analisis lainnya. Begitu pula proses-proses untuk kepentingan penimbangan.

Akan tetapi, ia terpaksa meninggalkan bidang kimia yang digelutinya itu, karena penglihatannya mulai kabur akibat eksperimen-eksperimen kimia yang dilakukannya. Ketika ia datang kepada seorang dokter, lalu dokter itu memintanya uang sejumlah 500 dinar sebagai ongkos penyembuhannya. Ia menyimpulkan bahwa dunia kedokteran telah dijadikan alat untuk mencari kekayaan. "Ini adalah sebuah bencana. Aku tidak ingin seperti itu!" kata Al-Razi. Kejadian itulah yang kemudian mendorong Al-Razi untuk mempelajari masalah/bidang kedokteran.

Berkat keseriusannya mendalami masalah-masalah kedokteran, nama Al-Razi segera melesat dan menjadi begitu diperhitungkan sebagai seorang dokter muslim terkemuka. Bahkan ia dipercaya untuk memimpin sebuah Rumah Sakit di Rayy, ketika Manshur ibn Ishaq ibn Ahmad ibn Azad menjadi Gubernur Rayy dari tahu 290-296 H/902-908 M. Rumah Sakit yang dipimpinnya itu termasuk salah satu rumah sakit yang dikenal sebagai pusat penelitian dan pendidikan medis.

Al-Razi sendiri menaruh hormat kepada Manshur ibn Ishaq ibn Ahmad ibn Azad karena telah memberi keleluasaan sekaligus kepercayaan kepadanya untuk menggeluti bidang kedokteran yang sangat diminatinya. Karenanya, sebagai bentuk penghormatannya, ia mempersembahkan karyanya yang sangat monumental berjudul Al-Thib al-Manshuri.

Al-Razi kemudian juga dipercaya untuk memimpin Rumah sakit di Baghdad. Orang-orang ketika itu banyak yang mengatakan bahwa Al-Razi adalah seorang dokter yang paling handal pada zamannya. Apalagi latar belakang di bidang kimia yang dikuasainya, membawa Al-Razi dikenal sebagai dokter pertama yang menerapkan ilmu kimia dalam bidang kedokteran, sampai-sampai ia pernah mengobati penyakit seseorang melalui reaksi kimia yang terjadi dalam tubuh pasien. Al-Razi juga dikenal sebagai dokter pertama yang menyatakan bahwa kondisi jasmani itu banyak terpengaruh oleh kestabilan jiwa. Teori semacam ini merupakan ciri teori ilmu kedokteran modern. Karena itulah, Al-Razi dikenal sebagai salah satu perintis kedokteran modern.



Kitab Al-Hawi yang berisi pengalaman medis Al-Razi selama 15 tahun


Karya-karyanya banyak yang menjadi rujukan para ilmuwan Barat hingga Abad ke-19. Diantaranya karya Al-Razi yang membuatnya terkenal sampai kedunia barat adalah Al-Hawi. Buku ini terdiri atas 20 jilid, dan dianggap sebagai buku induk dalam bidang kedokteran. Buku ini menghimpun hasil-hasil eksperimen, penelitian, dan pengalaman medisnya selama 15 tahun. Buku monumental karya Al-Razi ini baru ditemukan kuran lebih setengah abad setelah Al-Razi wafat. Bukuitu ditemukan diberbagai museum di Eropa. Atas perintah Raja Charles I dari Anyou, buku Al-Hawi diterjemahkan dalam bahas latin, yang merupakan bahasa resmi ilmu pengetahuan Eropa pada waktu itu.

Lukisan Al-Razi sedang memeriksa seorang anak kecil

Sebagai seorang dokter, Al-Razi dikenal sebagai dokter yang pemurah. Ia sangat baik memperlakukan orang miskin. Disamping banyak membantu kehidupan mereka, ia mengobati orang-orang itu di rumah sakitnya tanpa bayaran. Ini semua merupakan perwujudan dari tekadnya ketika ia pertama kalinya terdorong untuk mempelajari bidang kedokteran. Ia tidak ingin dunia kedokteran digunakan sebagai sarana untuk mengeruk kekayaan. Ia ingin dunia kedokteran dijadikan sebagai sarana untuk mereka yang membutuhkan pertolongan.

Al-Razi meninggak dunia pada tahun 925 M di kota kelahirannya, Rayy. Selama hidupnya, Al-Razi sudah menulis sekitar 232 karya ilmiah dalam banyak bidang seperti kimia, kedokteran, astronomi, sejarah, filsafat, teologi, dan juga etika.

Demikianlah tulisan dari saya, semoga bermanfaat untuk orang yang mungkin membutuhkan tulisan ini. Tulisan ini juga bisa dijadikan sebagai referensi....

Wabillahi taufik wal-hidayah..Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Loh, kok jadinya kayak habis ceramah ya.
Ya sudahlah
Read More

Carolus Linnaeus. Linnaeus

Ragam spesies flora dan fauna yang kita kenal saat ini diklasifikasikan secara taksonomi. Kita jadi tahu apa perbedaan harimau jawa dengan harimau sumatera karena perbedaan klasifikasinya.

Tahukah kamu siapa orang yang telah mempelopori lahirnya sistem klasifikasi itu? Yang namanya selalu melekat pada nama ilmiah spesies yang diklasifikasikannya?

Ia adalah Carolus Linnaeus. Linnaeus adalah seoran ilmuwan asal Swedia. Ia lahir pada 23 Mei 1707. Jangan heran kalau disebagian nama latin flora dan fauna dunia kerap diakhiri dengan nama linnaeus. Sebab memang dialah yang menanamkan fondasi untuk klasifikasi taksonomi modern. Ia juga merupakan salah satu Bapak Ekologi Modern.



Ketertarikannya dalam studi botani sempat membuat seorang fisikawan dari kotanya terpesona. Ia lalu dikirim untuk bersekolah di Universitas Lund, kemudian pindah ke Universitas Uppsala setelah satu tahun.

Dalam masa-masa ini Linnaeus mempunyai keyakinan bahwa dalam benang sari dan putik bunga terkandung dasar-dasar klasifikasi tumbuhan. Kemudian ia menuliskan sebuah makalah singkat pada suatu mata kuliah yang berhasil mengantarkannya menjadi pembantu professor.

Tahun 1732, Badan Akademik IPA di Uppsala membiayai ekspedisinya untuk meneliti Laplandia. Hasilnya adalah tulisan berjudul Flora Laponica yang dicetak tahun 1737.

Linnaeus menamakan taksa dengan sesuatu yang mengenai diri pribadinya. Sebagai contoh, manusia adalah Homo Sapien, tetapi ia juga menyataka bahwa ada spesies manusia kedua yaitu Homo Troglodytes.

Selain di bidang klasifikasi flora dan fauna, Carolus juga memiliki sumbangan di banyak bidang. Kamu tahu simbol Mars untuk lelaki dan Venus untuk perempuan yang terkenal itu? Linnaeus lah yang mencetuskannya. Linnaeus juga membantu dalam pengembangan skala temperatur celcius, dimana ia memutarbalikkan skala buatan Anders Celcius yang menyatakan bahwa 0o adalah titik didih air, dan 100o adalah titik beku air.
Read More